Pengakuan Arief Budiman Saat Menjadi Saks Di Kasus Suap
- Berita Terbaru Politik

Pengakuan Arief Budiman Saat Menjadi Saks Di Kasus Suap

Berita Terbaru Politik – Arief Budiman selaku Ketua Komisi Pemilihan Umum ( KPU) baru baru ini menyatakan pernyataan yang cukup mengejutkan. Dia mengatakan bila dirinnya pernah bertemu dengan mantan caleg PDI-P Harun Masiku di Kantor KPU pada September 2019 lalu. Pernyataan itu dia katakan ketika ditunjuk menjadi sakasi dalam kasus yang sekarang berlangsung. Kasus itu adalah sasus suap yang terdakwa eks Komisioner KPU Wahyu Setiawan dan mantan anggota Bawaslu Agustiani Tio Fridellina di Pengadilan Negeri Tipikor Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2020). “Saat itu cuma menyampaikan ini ada surat dari Mahkamah Agung, surat DPP PDI-P, foto, 15-20 menit sebetulnya banyak ngalor-ngidul-nya,” kata Arief.

Pengakuan Arief Budiman Saat Menjadi Saks Di Kasus Suap

Apa yang sudah diputskan MA dalam kasus ini bisa dikatakan menjadi salah satu dasar yang tepat untuk kelurkan surat DPP PDI-P kepada KPU. Isi surat itu meminta KPU untuk memanipulasi pengambilan suara caleg Nazaruddin Kiemas yang telah meningga. Suara itu akhirnnya di pindahkan menjadi milik harus. Arief menambahkan, Harun memperlihatkan beberapa fotonnya bersama dengan tokoh tokoh nasional agar MA mau mengerjakan apa yang mereka minta itu. “Kalimatnya saya tidak ingat, tetapi substansinya mohon segera diproses sebagaimana keputusan MA. Seingat saya dia membawa keputusan MA, surat DPP PDI-P dan beberapa foto dia tunjukkan kepada saya, foto dia dengan orang-orang yang mungkin dekat dengan dia,” ujar Arief.

Arief juga menambahkan bila obrolan itu sebenarnya terjadi dan juga pada saat itu tidak ada yang bersedia untuk mengambulkan permintaan harusn. “KPU kalau membuat keputusan itu sesuai dengan aturan yang berlaku dan atas surat pertama sudah kita jawab bahwa kita tidak bisa menindaklanjuti karena tidak sesuai peraturan perundangan yang berlaku lalu Harun Masiku terus pulang,” katanya.

Agustiani, dalam perkara ini memiliki tugas nya sendiri. Dia menjadi mediator untuk harun dan pihak swasta. Uang yang mereka berikan ini diharpkan bisa membuat wahyu mempengaruhi anggtoa komisaris KPU lainnya untuk menerbitkan surat yang dapat membuat harun menggeser caleg Riezky Aprilia yang memiliki jumlah suara lebih banyak daripada Harun. Pada Akhirnnya, Wahyu dan Agustiani didakwa melanggar Pasal 12 huruf a UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *